ADAABUTH-THA’AM (ADAB MAKAN)

Makan

adalah suatu kegiatan keseharian yang tidak luput dari ajaran Islam.Islam yang kaamil ( sempurna ) juga mengajarkan
kita tata cara makan. Sebagai suatu ajaran Islam, kita selaku umat Islam harus
mengamalkannya sebagai rasa cinta kita kepada Allah, juga dengan mengikuti
sunnah  Rasulullah SAW ( QS 3 : 31-32 ).
Banyak sekali suri tauladan dan ajaran Rasulullah yang dapat kita
aplikasikan.Salah satunya adalah teladan beliau dalam tata krama makan ( adaabuth-tha’aam ).

Hukum  minum
sambil  berdiri

Dari abu na’im
dari mis’ar dari Abdul Malik bin Maisarah dari An-Nazzaal berkata : Ali ra
pernah masuk pintu serambi ( mesjid Kufah ) kemudian dia minum sambil berdiri,
lalu ia berkata :”sesungguhnya orang-orang tidak suka minum sambil
berdiri, padahal saya pernah melihat Rasulullah SAW melakukan hal yang serupa
dengan yang telah aku kerjakan

( HR Bukhari )

Diceritakan
dari abu na’im dari sufyan dari Ashim Al-ahwal dari Asy-Sya’by dari Ibnu Abbas
berkata : ” Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah minum air zamzam
sambil berdiri.”

Dari
Anas bahwa Rasulullah SAW melarang minum sambil berdiri.
( HR Muslim )

Dari
abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW melihat seorang lelaki yang sedang
minum sambil berdiri kemudian beliau bersabda:”muntahkanlah!”, lelaki
tersebut berkata :”kenapa ?” Nabi pun menjawab:” apakah kamu
akan senang jika kamu minum dengan seekor kucing?” sahabat tersebut
menjawab :”tidak”, Nabi bersabda: “sesungguhnya kamu minum
bersama dengan mahluk yang lebih jelek dari kucing, yaitu syaitan.
” (
HR Muslim )

Jumhuur
ulama ( kebanyakan ulama ) menyatakan bahwa minum sambil berdiri itu dibolehkan
dengan berdalih dengan hadist Ali r.a yang minum sambil berdiri. Akan tetapi,
perlu diketahui juga bahwa ada sebagian ulama yang tidak memperbolehkan minum
sambil berdiri dengan berdalih hadist dari anas dan abu hurairah diatas. Ulama
sepakat bahwa meninggalkan minum sambil berdiri merupakan sesuatu yang lebih
utama. Nah, mulai sekarang jangan lupa untuk minum sambil duduk dan ada juga
ulama yang menyebutkan alasan ketidakbolehan minum sambil berdiri karena alasan
medis.

Giliran
Minum

Dari
Isma’il dari Malik dari Ibnu Syihab dari anas bin malik r.a, sesungguhnya
Rasulullah SAW pernah diberi susu yang pernah dicampur dengan ari, disamping
kanannya ada orang Arab a’raby dan di samping kirinya ada Abu Bakar. Nabi pun
meminumnya,lalu memberikan ke orang a’raby seraya bersabda:”( gilirannya)
dari kanan terus kekanan.”

(
H.R Bukhari )

Hadist ini menerangkan kepada kita
bahwa Rasulullah SAW lebih mendahulukan yang kanan daripada yang kiri dalam
segala hal, termasuk dalam giliran minum.

Menyebut asma  Allah ketika Makan dan

Makan dengan Tangan Kanan

Dari
Umar bin Abu Salamah berkata :” ketika saya masih kecil dan berada di
rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, saya pernah makan dengan tangan
kesana kemari mengambil makanan dari piring, lalu Rasulullah menegurku :”
Wahai anak! Sebutlah asma Allah dan makanlah dengan tangan kananmu, dan
makanlah dari apa yang terdekat darimu,” cara makanku berubah sejak saat
itu.
( H.R Bukhari )

Sebutlah asma Allah. Sabda Rasulullah ini mengadung arti
bahwa membaca Basmalah ketika hendak makan adalah merupakan amalan sunnah agar
syaitan tidak ikut menemani prosesi makan. Membaca Bismillah merupakan sunnah
kifayah, artinya : jika sudah ada orang yang membaca basmalah  maka sudah mencakup orang lain yang sedang
makan bersama juga. Contoh sunnah kifayah lain ketika seseorang sedang
bersama-sama, seperti :menjawab salam, atau mendoakan orang yang telah bersin.
Jumhuur ulama ( kebanyakan ulama ) justru berpendapat bahwa membaca basmalah
termasuk    amalan   sunnah
bagi semua orang   walaupun sedang  makan berjamaah

(
bersama-sama).

Imam nawawi berpendapat bahwa bacaan basmalah yang paling
pendek adalah bismillah, sedangkan bacaan basmalah yang afdhal ( lebih utama )
adalah bismillaahirrahmaanirraahiim.

Makanlah dengan tangan kanan. Hal ini termasuk sunnah
Rasulullah. Diriwayatkan juga bahwa syaitan membiasakan makan dengan tangan
kiri. Akankah kita seperti syaitan dalam hal makan ? Bahkan Imam Syafi’I, dalam
kitab Al-Um dan Ar-Risalah, menyatakan bahwa membaca basmalah merupakan amalan
yang wajib karena adanya ancaman  dari
Rasulullah bagi orang yang makan dengan tangan kiri. Hal ini bisa dilihat dalam
hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Salamah bin Al-Akwa’ tentang
hadist yang senada dengan hadist di atas.

Dari a’isyah r.a
berkata
Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda: ” jika seseorang diantara kamu hendak makan,
maka sebutlah asma Allah, jika lupa untuk menyebut asam Allah pada saat hendak
makan, maka hendaklah mengucapkan ” Bismillaahi awwalahu wa aakhirahu
.”(
HR. Abu Dawud dan Tirmidzi )

Dari jabir r.a berkata : ” saya pernah
mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ” jika
seseorang masuk ke rumahnya dengan menyebut asma Allah pada saat masuknya dan
pada saat dia hendak makan, maka syaitan akan berkata ( kepada temannya):
” tidak ada tempat bagi kalian dan tidak ada jamuan makan bagi
kalian.”Dan jika seseorang masuk kerumahnya tanpa menyebut asma Allah pada
saat masuk, maka syaitan akan berkata :” kalian telah mendapatkan
tempat.” Dan jika seseorang tidak menyebut asma Allah ketika hendak makan,
maka syaitan akan berkata:” kalian telah mendapat jamuan makan.”
(HR.Muslim)

Dari Umayyah bin Makhsyiyyi ash-Shahaaby
r.a berkata : Rasulullah pernah duduk disamping orang yang sedang makan dan
tidak menyebut asma Allah sampai makanannya tinggal satu suapa lagi. Ketika dia
hendak mengangkatnya ke mulutnya, dia mengucapkan : “Bismillaahi awwalahu
wa aakhirahu,”kemudian Nabi pun tersenyum seraya bersabda:” tadinya
syaitan makan bersamanya. Kemudian ketika dia menyebut asma Allah syaitan
langsung memuntahkan apa yang diperutnya.”
( HR.Abu Dawud dan Nasai)

Hadist di
atas jelas menerangkan bahwa kita dianjurkan membaca basmalah ketika hendak
makan. Akan tetapi, jika kita lupa tidak membaca basmalah maka bacaannya adalah
Bismillaahi awwalahu wa
aakhirahu.”
Seketika itu juga, syetan la’natullah’alaih ( semoga Allah melaknatinya) akan memuntahkan
makanan yang dia  makan bersama orang
yang tidak membaca basmalah.

Sudah
semestinyalah bagi kita umat Islam untuk selalu membaca basmalah ketika hendak
melakukan segala amal pekerjaan yang baik, termasuk hendak makan. Akankah kita
makan bersama syaitan yang jelas-jelas musuh kita sejak Nabi Adam hingga akhir
zaman nanti? Nggak lah yau…

Menjilat Jemari

Dari
Ka’ab bin Malik r.a berkata : ” saya melihat Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam makan dengan tiga jari. Kemudian ketika selesai, beliau
menjilatnya
.”(HR. Muslim)

Dari jabir r.a, sesungguhnya Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan untuk menjilat jemari dan piring
seraya bersabda:”sesungguhnya kalian tidak tahu keberkahan ada pada
makanan yang mana.”
(HR.Muslim)

Hadist
diatas menerangkan bahwa makanan yang kita makan mengandung keberkahan dari
Allah Subhaanahuu Wa Ta’aala, tetapi kita tidak tahu makanan mana yang
mengandung keberkahan itu. Bisa jadi sebulir nasi yang tertinggal di piring itu
justru satu-satunya yang mengandung berkah dari Allah. Bisa jadi kuah yang
menempel dijemari kita justru malah yang mengandung berkah dari Allah. Wallahu
a’lam.

Sudah
semestinya juga kita untuk meniru suri tauladan kita, Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam, untuk melakukan sesuai hadist diatas.Mafhum muwafaqah ( konklusi positif ) dari hadist diatas adalah
bahwa kita juga tidak diperbolehkan menyisakan makanan walau sebulir. Bahkan,
makanan yang terjatuh dari piring bila perlu dicuci dan dimakan kalau
keadaannya masih layak untuk dimakan.

Makan  seperlunya

Dari Abu Hurairah r.a, dia berkata
:” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda :”
makanlah untuk dua orang itu sebenarnya cukup untuk tiga orang, makanan untuk
tiga orang sebenarnya cukup untuk empat orang
.
(HR.Bukhari)

Dari Nafi’ berkata;”ibnu umar tidak
akan mulai akan sampai dia memanggil seseorang miskin untuk diajak makan
bersamanya.Pada suatu hari saya membawa seseorang laki-laki untuk  makan bersamanya, kemudian orang tersebut
makan terlalu banyak. Umar pun berkata: wahai Nafi’ jangan sekali-kali membawa
orang seperti itu kepadaku, saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda :” orang mukmin makan dengan satu usus sedangkan
orang kafir makan dengan tujuh usus.
(HR.Bukhari)

Sifat
seorang mukmin akan hilang dan berganti menjadi kafir jika dia makan terlalu
banyak. Kenapa? Karena seorang mukmin itu tidak rakus dan tidak terlalu rakus
dalam hal makanan, dan makanan dan minumannya selalu mendapat berkah, sehingga
ia akan merasa kenyang dengan makan dan minum sedikit. Orang kafir? Ia sangat
rakus dan tamak dalam hal makanan sampai Rasulullah pun membandingkannya dengan
tujuh usus sebagai gambaran.

Sifat
diatas tidak bisa dipukul rata, karena ada juga orang yang mukmin yang makan
banyak karena alasan tertentu seperti karena sakit perut dan yang lainnya.
Sedangkan orang kafir akan makan sedikit hanya dengan alasan tertentu, mungkin
karena alasan kesehatan dari seorang dokter atau alasan yang datang dari
rahibnya. Jelas, bahwa alasan dan sifat orang mukmin dan kafir itu berbeda seratus
delapan puluh derajat. Akankah kita seperti mereka?

Perlu
diketahui juga orang mukmin harus tahu bahwa maksud memakan makanan secara
syara’ adalah untuk menghalau rasa lapar dan untuk memperkuat amalan ibadah
disertai rasa takut akan hisab terhadap apa yang dimakan.

Dari hadist yang diriwayatkan dari Abu
umamah:” barangsiapa yang banyak berpikir, maka dia akan menyedikitkan
makannya dan barangsiapa yang sedikit berpikit, maka dia akan memperbanyak
makannya dan akan keraslah hatinya.”

Dari Ibnu Abbas berkata ;”
telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:” sesungguhnya
orang yang kenyang di dunia akan menjadi yang lapar diakhirat kelak.”
(HR.Thabrani)

Bernafas
ketika  minum  serta
meniupnya

Dari ibnu Abbas r.a, sesungguhnya
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:” melarang bernafas dalam wadah
(minuman) atau meniupnya.”
(HR.Tirmidzi)

Hadist ini
secara jelas melarang bernafas ketika kita minum air, juga melarang meniupnya.
Kenapa? Ada suatu penelitian yang menerangkan bahwa jika ada air panas yang
menguap, maka uap air ( H2O) yang keluar akan bereaksi dengan udara pernafasan
kita (CO2) sehingga akan menimbulkan Asam karbonat( HCO3
¯ ) yang bersifat
korosif terhadap paru-paru bila kita hidup.

Tidak Makan sambil Berbaring

Dari Abu Juhaifah, telah bersabda
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:” sesungguhnya saya tidak pernah
makan sambil muttaki ( berbaring ).”
(HR.Bukhari)

Muttaki
dalam hadist diatas mempunyai dua pengertian, bisa berarti berbaring atau duduk
yang lama untuk makan. Ulama ada yang beristimbath
bahwa hadist ini menjelaskan pada kita bahwa makan sambil berbaring itu makruh
hukumnya, karena hal ini merupakan sifat para pembesar terdahulu seperti
raja-raja terdahulu loh…Ibrahim An-Nakha’i berkata bahwa para ulama melarang
gaya makan sambil tidur karena ada kemungkinan menyebabkan perut menjadi besar.

Tidak Mencela Makanan

Dari Abu hurairah r.a, berkata:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah mencela makanan sekali pun
, jika beliau menginginkannya beliau pun makan, jika beliau tidak suka beliau
pun meninggalkannya.”
(HR.Bukhari )

Dalam
hadist diatas jelas bahwa Rasulullah tidak pernah mencela makanan, baik yang
hasil buatan siapa pun. Beliau tidak pernah berkata:” ah,gak enak, asin
.Belum mateng lagi.” Atau ucapan-ucapan yang senada.

Maraji’

Al-qasthalaany,
Irsyaad Asy-Syaari, Bairut, Libanon

Riyadhus
Sholihin

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: